1

Hilang ingatan

Seorang dokter mengamati hasil CT Scan otakku dengan seksama. Aku duduk di ranjang sambil mengamati dahinya yang terus-menerus berkerut dalam. 

"Sekarang tahun berapa mbak Tara?"

Pertanyaan itu lagi. Hadeeeeh. "2008 Dokkk, kan saya sudah bilang dari tadi."

Dokter itu menggeleng. "Mbak Tara, ingat kenapa bisa sampai masuk rumah sakit?"

Giliran aku yang menggeleng. "Makanya saya bingung banget Dok kenapa sekarang saya malah ada disini, padahal seinget saya, saya lagi di rumah temen saya, numpang bobo siang,"

"Mbak Tara kecelakaan mobil," kata Dokter itu. "Sudah 3 hari tidak bangun,"

"Hah? Mana ada kecelakaan mobil Dok... Saya sama sekali nggak ingat tuh!"

"Iya, kalau dari hasil  CT Scannya, mbak Tara mengalami gegar otak ringan, kemungkinan sih Mbak mengalami hilang ingatan, tapi saya harus cek lebih lanjut untuk tahu lebih pastinya,"

Aku tertegun, berusaha mencerna informasi yang barusan kudapat. Kecelakaan, hilang ingatan? Bercanda kali ya.

"Sebentar Dok... boleh nggak saya minta Mama Papa saya dateng dulu?? Soalnya saya bener-bener...."

BRAK! 

Suara pintu yang dibanting terbuka itu membuat aku dan Pak Dokter terperanjat.

Seorang laki-laki yang nggak kukenal menghampiriku dan langsung memelukku erat. 

"Alhamdulillah... Alhamdulillah Ya Allah...."

Sampai saat om-om ini melepaskan pelukannya, aku hanya bisa duduk kaku di ranjang sambil melotot.  

"Kamu baik-baik aja kan?? Apa yang kerasa sekarang??"

Aku mencoba menganalisa wajahnya, yap, aku nggak kenal.

Serta merta aku menoleh ke Dokter tadi dengan panik, ini rumah sakit jangan-jangan ada pasien sakit jiwa juga??

"Begini Pak Dimas," akhirnya dokter itu angkat bicara. "Sepertinya Ibu Tara mengalami hilang ingatan, tapi saya juga belum yakin, jadi sepertinya harus diadakan pemeriksaan lebih lanjut."

Mas-mas yang dipanggil Dimas itu kembali mengamatiku dalam jarak kurang lebih 10cm. Otomatis aku menjauhkan wajahku, siapa sih ini?? 

"Denger, Tara... aku minta maaf... aku salah... sangat salah... tapi kamu nggak mesti kayak begini... aku minta maaf..."

Wah... gila... aku berasa lagi syuting FTV.

"Maaf, ngg... tapi ini siapa ya?"

Pelan-pelan aku mendorong pundaknya, tapi dia nggak bergeming.

"Tara.. kamu nggak perlu kayak gini,"

"Nggak, Mas, siapapun kamu, saya emang nggak ingat... emangnya Mas siapa?"

Dia nggak menjawab dan nggak juga melepaskan tatapannya dariku, Gila! Ini siapa sih bikin risih!

"Dok, Dok, boleh telfon Mama Papa saya nggak?" 

KRIEEET, terdengar suara pintu yang kembali dibuka dengan lebih lembut. "Ade???"

Itu suara Mamaku, "Mama!" 

Nggak lama, sosok Mama muncul. Mas-mas nggak jelas tadi langsung menyingkir dan mempersilakan Mamaku memelukku. 

"Ya Allah... Ade... Alhamdulillah nak... alhamdulillah kamu bangun..."

Mendengar Mamaku yang terisak, otomatis aku juga ikut menangis. 

"Ma, kok nangis sampai segitunya sih? Aduh, emangnya Ade kenapa sih? terus Papa mana deh??"

Dengan wajahnya yang entah kenapa terlihat semakin layu, Mama menatapku bingung. "Kamu ngomong apa sih nak...? Dok?"

"Ehm, memang perlu lebih diperdalam tapi nampaknya Mbak Tara sedikit mengalami hilang ingatan Bu,"

"Hilang ingatan...?" Mama kembali menatapku, kali ini lebih gusar. "Ya Allah, apa karena kepalanya terbentur keras Dok?"

"Ma... boleh sebentar Dimas ngobrol dengan Tara?"

Mas-mas aneh tadi meletakkan tangannya di pundakku. Aku mengernyit sambil menepis tangannya kesal, 

"Ma, siapa sih Mas-mas ini? Dia sok kenal banget deh." 

Mama menatapku bingung. "Siapa? Ini Dimas sayang,"

"Dimas siapa sih Ma? Anaknya tante Nani? Eh, bukannya namanya Aditya ya?"

"Bukan, ini Dimas, suami kamu."

"Hah?" Aku menunjuk Mas-mas tadi. "Suami?"


Comments